Malang, 11 September 2025 — Universitas Negeri Malang (UM) resmi menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) XIII 2025, sebuah ajang bergengsi yang mempertemukan para pengajar, peneliti, akademisi, serta pemangku kebijakan dari dalam dan luar negeri untuk membicarakan masa depan pengajaran BIPA.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 11–12 September 2025, di Gedung A21 Sekolah Pascasarjana UM ini mengusung tema:
“Pemartabatan Bahasa Indonesia Melalui Penguatan Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) pada Era Digital.”

Tema tersebut lahir dari kesadaran bahwa bahasa Indonesia bukan hanya identitas budaya bangsa, melainkan juga memiliki potensi besar sebagai bahasa komunikasi global. Di tengah arus perkembangan teknologi digital, pengajaran BIPA menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Teknologi membuka ruang bagi model pembelajaran yang lebih interaktif, inovatif, dan mampu menjangkau lebih banyak pembelajar asing di berbagai belahan dunia. Kegiatan Ini banyak mendapat dukungan penuh dari kampus Universitas Negeri Malang dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah, Brin dan APPBIPA Pusat.

Tokoh Nasional dan Internasional

Kehadiran pembicara utama dalam KIPBIPA XIII 2025 menjadi sorotan penting. Pada hari pertama (11 September 2025), konferensi menghadirkan sejumlah tokoh terkemuka, yaitu: Prof. Dr. Abdul Mukti, M.Ed. – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia; Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si. – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. – Rektor Universitas Negeri Malang; Prof. Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd. – Universitas Negeri Jakarta; Prof. Habib Zarbaliyev – Azerbaijan University of Languages;Prof. Koh Young Hun – Hankuk University of Foreign Studies, Korea

Para pembicara tersebut memberikan pandangan strategis mengenai bagaimana bahasa Indonesia dapat terus bermartabat dan berdaya saing di kancah internasional melalui penguatan pengajaran BIPA.

Antusiasme Peserta yang sangat tinggi dari Dalam dan Luar Negeri, Kegiatan ini diikuti oleh 361 peserta, terdiri dari pengajar BIPA, dosen, mahasiswa, peneliti, hingga praktisi pendidikan bahasa dari berbagai negara. Peserta hadir secara luring maupun daring, menandai semakin luasnya jangkauan jejaring internasional pengajaran bahasa Indonesia.

Rangkaian acara KIPBIPA XIII 2025 mencakup: Sesi Pleno dengan pemaparan materi dari pembicara utama, Desiminasi Kebijakan dan Pembinaan Bahasa, Munas APPBIPA dan Presentasi Paralel di mana para peneliti dan praktisi memaparkan hasil kajian terbaru terkait pengajaran BIPA, yang memberikan pelatihan praktis mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran BIPA, serta Forum Diskusi yang menjadi ruang berbagi pengalaman dan membangun kerja sama antarnegara.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya bahasa Indonesia sebagai instrumen diplomasi kebahasaan.

“Riwayat Bahasa Indonesia sebagai landasan filosofis penginternasionalan bahasa Indonesia dan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing,” ujarnya.

Beliau juga menambahkan bahwa UM berkomitmen untuk terus mendukung berbagai upaya internasionalisasi bahasa Indonesia melalui pengajaran BIPA yang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mukti, M.Ed., dalam pidato yang diwakilkan oleh Kepala Badan Bahasa kuncinya menegaskan bahwa bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam diplomasi kebahasaan . Bahasa Indonesia adalah jembatan peradaban. Melalui pengajaran BIPA, kita tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga memperkenalkan nilai, budaya, dan identitas bangsa. Di era digital ini, kita perlu memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan dan memperkuat pengaruh bahasa Indonesia di dunia internasional,” ujar Abdul Mukti.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas pengajar BIPA.

“KIPBIPA adalah momentum untuk memperkuat jejaring global. Kami ingin memastikan bahwa pengajaran BIPA tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi sarana diplomasi kebahasaan yang memperkokoh martabat bahasa Indonesia,” ungkap Hafidz Muksin.

 

Momentum Internasionalisasi Bahasa Indonesia

KIPBIPA XIII 2025 bukan hanya sebuah forum akademik, melainkan juga momentum strategis untuk memperluas peran bahasa Indonesia di dunia internasional. Dengan dukungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pemerintah, serta komunitas akademik global, konferensi ini diharapkan mampu memperkuat jejaring internasional, mendorong inovasi pengajaran, serta membuka ruang kolaborasi riset lintas negara.

Kehadiran ratusan peserta dari dalam dan luar negeri menegaskan bahwa minat terhadap bahasa Indonesia semakin meningkat. Melalui KIPBIPA XIII 2025, Universitas Negeri Malang berperan aktif dalam menjaga martabat bahasa Indonesia sekaligus mengukuhkan perannya di era digital yang semakin menuntut kreativitas, adaptasi, dan kolaborasi global.