MALANG – Pembelajaran matematika di sekolah dasar sering kali dianggap sulit dan menegangkan. Namun, penelitian terbaru dari Universitas Negeri Malang (UM) menunjukkan hal berbeda. Jika guru berperan sebagai desainer pembelajaran, matematika justru bisa menjadi pelajaran yang menyenangkan sekaligus menantang.

Penelitian bertajuk “Peran Guru sebagai Desainer Pembelajaran Joyful Deep Learning (JDL) dalam Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah Matematis di Sekolah Dasar” ini dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa dari Sekolah Pascasarjana dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM, diketuai oleh Dr. Siti Mas’ula, M.Pd.

Selama dua bulan, dari September hingga Oktober 2025, tim melakukan observasi kelas dan wawancara mendalam terhadap enam guru matematika SD Laboratorium UM Kota Malang.

(Foto 1: Tim peneliti Universitas Negeri Malang saat melakukan wawancara mendalam dengan guru kelas VI SD Laboratorium UM)

Belajar Matematika Tanpa Takut

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Joyful Deep Learning (JDL) mampu menciptakan suasana kelas yang hidup, ramah, dan berpikir mendalam.
“Dalam JDL, anak-anak tidak hanya senang belajar, tetapi juga diajak berpikir secara kritis dan reflektif. Jadi, bukan sekadar bermain, tapi benar-benar memahami konsep,” jelas Dr. Siti Mas’ula.

Suasana itu tampak jelas di ruang-ruang kelas SD Laboratorium UM. Di kelas I misalnya, siswa tampak antusias mengikuti permainan berhitung sambil bereksperimen dengan benda konkret.

(Foto 2: Guru SD Laboratorium UM sedang melaksanakan pembelajaran matematika berbasis Joyful Deep Learning di kelas I)

Sementara di kelas II, guru memfasilitasi diskusi kelompok kecil, mengajak anak-anak mencari berbagai cara menyelesaikan soal cerita.

(Foto 3: Proses observasi pembelajaran matematika di kelas II SD Laboratorium UM, suasana belajar aktif dan kolaboratif)

Guru sebagai Perancang Pengalaman Belajar

Penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru sebagai perancang pengalaman belajar, bukan sekadar penyampai materi. Guru dituntut untuk kreatif, reflektif, dan mampu merancang kegiatan yang menantang sekaligus menyenangkan bagi siswa.

“Menjadi guru masa kini berarti menjadi perancang ide dan pengalaman belajar. Kami tidak cukup hanya menjelaskan rumus, tetapi menuntun anak untuk berpikir dan menemukan makna,” ungkap salah satu guru peserta penelitian.

Aktivitas di kelas III menunjukkan hal itu dengan nyata. Guru memandu siswa berdiskusi dalam kelompok kecil untuk menemukan pola bilangan melalui permainan sederhana.

(Foto 4: Guru kelas III memandu siswa berdiskusi menyelesaikan masalah kontekstual dengan pendekatan Joyful Deep Learning)

Demikian pula di kelas V, siswa tampak bersemangat mengikuti kegiatan eksploratif dengan alat peraga sederhana untuk memahami konsep Kelipatan Bilangan.

(Foto 5: Salah satu peneliti dari tim UM mendokumentasikan aktivitas siswa dalam kegiatan eksploratif di kelas V)

Dampak Positif di Kelas

Dari hasil observasi, terlihat peningkatan signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Mereka lebih percaya diri, aktif bertanya, dan berani mencoba strategi baru untuk menyelesaikan soal.

“Anak-anak jadi lebih kreatif dan tidak takut salah. Mereka kini mampu menjelaskan alasan di balik setiap jawaban yang diberikan,” tutur salah satu guru kelas VI.

(Foto 6: Suasana interaktif pembelajaran matematika di kelas VI dengan strategi Joyful Deep Learning)

Pendekatan Joyful Deep Learning terbukti menumbuhkan keberanian berpikir logis sekaligus rasa senang belajar. Matematika tidak lagi menjadi momok, tetapi ruang bermain ide dan nalar. 

Inovasi Guru, Kunci Pembelajaran Masa Depan

Tim peneliti berharap hasil penelitian ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru di sekolah dasar lainnya untuk terus berinovasi dan mengembangkan diri sebagai desainer pembelajaran.

“Ketika guru mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna dan menggembirakan, kita tidak hanya mencetak siswa cerdas, tetapi juga pembelajar yang tangguh dan berkarakter,” tutup Dr. Siti Mas’ula. 

Tentang Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa dari Sekolah Pascasarjana dan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang pada September–Oktober 2025.
Subjek penelitian terdiri dari enam guru matematika SD Laboratorium UM Kota Malang.
Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi kelas, untuk menggali bagaimana guru berperan sebagai desainer pembelajaran Joyful Deep Learning dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar.