Newcastle, Australia – Tim Pengabdian Masyarakat dari sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang sukses melaksanakan kegiatan bertajuk “Melestarikan Tradisi Nusantara: Eksplorasi Budaya Jawa Timuran dan Topeng Malangan Melalui Inovasi Digital” pada 22–26 Juli 2025. Program ini berlangsung melalui kerja sama strategis dengan IAC (Indonesian Australian Community) dan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan warga negara keturunan Indonesia yang tinggal di Australia, khususnya di wilayah New South Wales.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat identitas budaya generasi muda diaspora Indonesia sekaligus mempromosikan kekayaan seni tradisional Jawa Timuran di kancah internasional. Pelaksanaan Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh semakin berkurangnya pengetahuan generasi muda diaspora terhadap seni tradisi daerah asal mereka. Topeng Malangan, sebagai salah satu warisan budaya dari Jawa Timur, memiliki nilai sejarah, estetika, dan filosofi yang mendalam. Melalui pemanfaatan inovasi digital, seni tradisi ini diharapkan dapat dikemas ulang menjadi lebih menarik dan relevan bagi generasi digital.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari sekolah Pascasarjana Prof Yusuf Hanafi, M.Fil.I dan Ketua IAC Sri Burke, diikuti dengan sambutan hangat dari perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KJRI) Sidney di Australia. Sesi dilanjutkan dengan Penyampaian materi mengenai “Sejarah dan Filosofi Topeng Malangan” yang dipaparkan oleh pakar Khusnul Khotimah, M.Pd dari Malang. ada hari ketiga, peserta mempraktikkan teknik pewarnaan tradisional dengan bahan alami, serta teknik dekorasi yang mempertahankan karakter khas Topeng Malangan. Suasana penuh kreativitas tercipta saat peserta memadukan sentuhan modern tanpa menghilangkan identitas asli.

Peserta mendapatkan pelatihan penggunaan media digital untuk mendokumentasikan dan mempromosikan seni tradisi. Materi meliputi fotografi produk budaya, pembuatan video pendek untuk media sosial, serta pengenalan teknologi 3D scanning untuk membuat replika topeng dalam bentuk digital. Kegiatan diakhiri dengan pertunjukan seni budaya yang menampilkan tarian khas Malang dengan mengenakan Topeng Malangan hasil karya peserta. Acara penutupan diwarnai dengan pameran mini yang memamerkan hasil topeng dan video digital yang telah dibuat.

Salah satu peserta, Abby, yang lahir di Sydney namun memiliki darah Malang, mengungkapkan rasa bangganya:

“Saya baru pertama kali memegang dan membuat Topeng Malangan sendiri. Rasanya seperti menemukan kembali bagian dari identitas saya yang sempat hilang.”

Ketua IAC sri Burke, juga menegaskan pentingnya kegiatan ini:

“Pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan cerita. Harus ada keterlibatan langsung, dan teknologi memberi kita jembatan untuk menjangkau generasi muda.”

Hasil dan Dampak Kegiatan ini didapatkan adanya Peningkatan Kesadaran Budaya: Peserta memahami nilai-nilai historis, filosofis, dan artistik Topeng Malangan; Keterampilan Baru: Peserta memiliki keterampilan dasar pembuatan topeng dan teknik dokumentasi digital; Jaringan Budaya Internasional: Terjalin hubungan yang lebih kuat antara komunitas diaspora Indonesia dan seniman di tanah air; Materi Digitalisasi Budaya: Tercipta konten digital berkualitas yang siap dibagikan untuk promosi seni budaya di platform internasional.