Header Menu - Sekolah Pascasarjana UM

(Belajar dari Nobel Sastra Han Kang 2024, Perkuat Diplomasi Bahasa dan Budaya Indonesia di Tingkat Global)
Malang, 22 September 2026 — Sastra tidak hanya menjadi ruang ekspresi artistik, tetapi juga dapat menjadi medium untuk memperkenalkan identitas, sejarah, nilai, dan kebudayaan suatu bangsa kepada masyarakat dunia. Perspektif tersebut mengemuka dalam Kuliah Tamu Magister Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) bertema “Sastra Indonesia Menuju Panggung Dunia: Peluang, Tantangan, dan Pembelajaran dari Nobel Sastra Han Kang 2024”, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom tersebut menghadirkan Prof. Dr. Koh Young Hun dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan, sebagai narasumber. Kuliah tamu dibuka secara langsung oleh Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Prof. Syamsul Bachri, Ph.D., dan dihadiri oleh mahasiswa Magister Pendidikan BIPA, Ketua Pusat Studi Bahasa dan Budaya Indonesia (PSBBI) UM, serta sejumlah tamu undangan.

Dari Han Kang, Indonesia Belajar Menembus Batas Bahasa
Pemilihan pengalaman sastra Korea sebagai salah satu fokus kuliah tamu memiliki relevansi kuat dengan upaya membawa sastra Indonesia ke ruang pembaca global. Pada 2024, Han Kang menjadi penerima Nobel Prize in Literature. Nobel Prize memberikan penghargaan tersebut atas karya prosanya yang secara puitis menghadapkan pembaca pada trauma sejarah dan kerentanan kehidupan manusia.

Pengalaman Han Kang membuka ruang diskusi mengenai bagaimana sebuah karya yang berakar pada konteks budaya tertentu dapat memperoleh resonansi internasional. Bagi Indonesia, fenomena tersebut menjadi momentum untuk membicarakan strategi internasionalisasi sastra, mulai dari kualitas karya, penerjemahan, ekosistem penerbitan, jejaring akademik, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Dalam konteks tersebut, sastra Indonesia memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan sebagai bagian dari diplomasi bahasa dan budaya. Kekayaan tradisi, keberagaman masyarakat, sejarah, dan pengalaman kebudayaan Indonesia menyediakan sumber cerita yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat internasional melalui berbagai medium.

BIPA dan Sastra: Menjembatani Bahasa, Budaya, dan Dunia
Bagi Program Studi Magister Pendidikan BIPA UM, pembahasan sastra memiliki posisi strategis. Pembelajaran BIPA tidak hanya berkaitan dengan penguasaan struktur dan keterampilan berbahasa Indonesia, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi pemelajar asing untuk memahami masyarakat dan kebudayaan Indonesia.

Karya sastra dapat menghadirkan pengalaman budaya secara lebih kontekstual. Melalui novel, cerpen, puisi, drama, maupun karya sastra digital, pemelajar BIPA dapat mengenali cara pandang, nilai, sejarah, konflik sosial, serta keberagaman budaya Indonesia.

Karena itu, pengajaran sastra dalam BIPA dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi diplomasi bahasa Indonesia. Sastra tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi dapat menjadi jembatan antara bahasa, budaya, pendidikan, dan hubungan antarbangsa.

Perspektif tersebut sejalan dengan SDG 4 (Quality Education), khususnya target 4.7 yang menekankan pendidikan yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk pembangunan berkelanjutan, kewargaan global, serta apresiasi terhadap keberagaman budaya dan kontribusi budaya terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menempatkan Sastra Indonesia dalam Ekosistem Global
Kuliah tamu tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa Magister BIPA mengenai tantangan internasionalisasi sastra Indonesia. Untuk dapat menjangkau pembaca dunia, karya sastra tidak cukup hanya memiliki kualitas artistik, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang mendukung proses penerjemahan, penerbitan, promosi, penelitian, dan distribusi karya.

Dalam perspektif pendidikan tinggi, mahasiswa BIPA memiliki posisi strategis untuk ikut membangun ekosistem tersebut. Mereka dapat berperan sebagai pendidik, peneliti, pengembang bahan ajar, penerjemah, pengembang program BIPA, maupun penggerak diplomasi bahasa dan budaya Indonesia.

Diskusi juga mengarah pada pentingnya mempertemukan sastra, teknologi, dan jejaring internasional. Perkembangan teknologi digital memberikan peluang bagi karya sastra Indonesia untuk menjangkau pembaca lintas negara dengan lebih cepat melalui buku digital, platform pembelajaran, media sosial, podcast, audiovisual, hingga berbagai bentuk digital storytelling.

Menguatkan Kolaborasi Internasional
Kehadiran Prof. Dr. Koh Young Hun juga memperkuat ruang dialog akademik antara Indonesia dan Korea Selatan. Pertukaran pengalaman mengenai perkembangan sastra kedua negara dapat menjadi pintu bagi pengembangan kerja sama pendidikan, penelitian, publikasi, penerjemahan, serta pengembangan pembelajaran BIPA.

Kolaborasi semacam ini memiliki keterkaitan dengan SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan pentingnya kemitraan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Bagi Sekolah Pascasarjana UM, forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi pendidikan tinggi melalui pertukaran gagasan dan pengalaman akademik lintas negara.

Sastra Indonesia Menuju Panggung Dunia
Kuliah tamu ini pada akhirnya tidak hanya membicarakan Nobel Sastra atau perjalanan Han Kang. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan bagaimana Indonesia dapat membangun ekosistem sastra yang mampu berbicara kepada dunia tanpa kehilangan akar budaya dan identitasnya.

Bagi mahasiswa Magister Pendidikan BIPA, gagasan tersebut memberikan perspektif baru bahwa pengajaran bahasa Indonesia kepada penutur asing dapat berjalan beriringan dengan pengenalan sastra dan budaya Indonesia. Bahasa menjadi pintu masuk, sastra menjadi medium pemahaman budaya, dan pendidikan menjadi sarana membangun hubungan antarbangsa.

Melalui penguatan riset, inovasi pembelajaran, penerjemahan, teknologi digital, dan jejaring internasional, sastra Indonesia memiliki ruang untuk semakin hadir dalam percakapan global. Kuliah tamu ini menjadi salah satu langkah akademik Sekolah Pascasarjana UM dalam memperkuat visi tersebut sekaligus mengembangkan peran BIPA sebagai bagian dari diplomasi bahasa dan budaya Indonesia di tingkat internasional.

Dokumentasi Kegiatan

Sambuatan dan Pembukaan Acara kuliah tamu Oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UM

Penyampaian Materi kuliah Oleh Prof Dr. Koh Young Hun

Pelaksanaan Kuliah tamu Bersama Narasumber dan peserta