Makna Penggunaan Biogas Sebagai Sumber Energi Rumah tangga (Studi Kasus Masyarakat Pedesaan Pandesari Pujon)

Ekonomi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari kegiatan manusia dalam memanfaatkan lingkungan sedemikian rupa sehingga fungsi atau peran lingkungan dapat dipertahankan atau bahkan dapat ditingkatkan dalam pemanfaatannya untuk jangka panjang. Sesungguhnya fungsi atau peran lingkungan yang utama adalah sebagai penunjang kehidupan (life support system)  dengan menyediakan sumberdaya alam sebagai bahan mentah untuk diolah menjadi barang jadi atau langsung dikonsumsi, sebagai assimilator yang mengolah limbah secara alami dan sebagai sumber kesenangan (amenity). Fungsi atau peran lingkungan semakin lama semakin menurun. Sumber daya alam yang telah tersedia menjadi berkurang dan langka, kemampuan alam mengelola limbah menjadi berkurang karena banyaknya limbah yang harus ditampung. Sistem perekonomian sesungguhnya tidak berdiri sendiri tetapi menyatu dengan sistem lingkungan. Sistem produksi dan konsumsi sebagian besar mengambil dari alam dan jasa lingkungan secara langsung, kemudian baik produksi dan konsumsi menghasilkan limbah yang selanjutnya dibuang ke lingkungan sekitar masyarakat, seperti selokan atau sungai. Menurut Suparmoko dan Ratnaningsih (2011: 1) ekonomi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari kegiatan manusia dalam memanfaatkan lingkungan sedemikian rupa sehingga fungsi atau peran lingkungan dapat dipertahankan atau bahkan dapat ditingkatkan dalam pemanfaatannya untuk jangka panjang. Fungsi atau peran lingkungan bagi manusia ini dapat mengolah bahan mentah menjadi barang jadi yang diproduksi kemudian baru dapat dikonsumsi untuk kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, kebutuhan masyarakat di Pandesari Pujon berkaitan dengan Biogas yang mampu diolah menjadi barang ekonomis penting.

Produksi minyak dunia semakin lama semakin menurun, nyatanya telah mencapai titik puncaknya sementara kebutuhan energi di seluruh dunia meningkat pesat. Oleh sebab itu, sangat diperlukan inovasi untuk mengurangi pemanfaatan minyak dengan pengganti minyak yang mempermudah masyarakat membuat dan menggunakannya. Inovasi yang mempermudah masyarakat membuat dan menggunakannya adalah biogas. Biogas merupakan energi tanpa menggunakan material yang masih memiliki manfaat termasuk biomassa, sehingga biogas tidak merusak keseimbangan karbondioksida yang diakibatkan oleh penggundulan hutan (deforestation) dan perusakan tanah. Energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar fosil sehingga akan menurunkan gas rumah kaca di atmosfer dan emisi lainnya. Methane (biogas) merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya duatmosfer  akan meningkatkan temperatur, dengan menggunakan biogas sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas metana di udara.

Limbah berupa kotoran hewan merupakan bahan yang tidak bermanfaaat, bahkan bisa mengakibatkan polusi udara yang mengeluarkan bau tidak sedap. Sehingga diperlukan pengubahan pada kotoran hewan menjadi hal yang berguna, seperti biogas. Aplikasi anaerobik digestion akan meminimalisasi efek dari limbah kotoran hewan dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah.Selain keuntungan energi  yang didapat dari proses anaerobik digestion dengan menghasilkan gas bio, produk samping seperti slury. Bahan ini diperoleh dari sisa proses anaerobik digestion yang berupa padat dan cair. Masing-masing dapat digunakan sebagai pupuk berupa pupuk cair dan pupuk padat.

Proses pembuatan biogas sendiri termasuk mudah dan bahan pembuatan biogas tidaklah mahal. Bahan-bahan yang diperlukan adalah minimal 3 buah cincin gorong-gorong, septik tank untuk tangki digester, dan sebuah tabung kubah yang besar yang dapat memuat kira-kira 200 liter bahan yang diperuntukkan sebagai gas methane (biogas). Bahan-bahan lainnya, berupa pipa logam dengan diameter 2 cm, yang berguna sebagai pipa penyaluran gas dari tangki pencerna ke kompor untuk memasak, lampu gas, dan lainnya. Bahan pencegah kebocoran (ter, cat, las, dan lainnya), serta kotoran ternak, limbah tanaman (dedaunan dan jerami) sebagai bahan baku, petani dapat membuat unit biogas sederhana. (Kamarudin,2008).

Pandesari Pujon salah satu desa yang masyarakatnya bekerja sebagai peternak sapi perah. Masyarakat menjadi anggota Koperasi Susu SAE, yang memasok susu sapi perah ke Koperasi Susu SAE Pujon. Setiap kepala rumah tangga memiliki minimal 5 ekor sapi perah. Sehingga, banyaknya sapi ini menghasilkan kotoran yang dapat menjadi polusi udara ataupun air. Polusi udara berupa bau, dan kotorannya tidak bermanfaat. Kotoran ini menjadi limbah tersendiri di sekitar rumah penduduk dan dibuang ke sungai. Masyarakat harus bisa mengolah kotoran tersebut menjadi barang yang bermanfaat dan dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, Pandesari Pujon salah satu desa sumber energi mandiri yang mengolah kotoran hewan menjadi biogas.

Biogas ini digunakan masyarakat untuk keperluan rumah tangga sehari-hari. Alasan pemanfaatan biogas di desa Pandesari karena masyarakat lebih hemat dalam pengeluaran mereka serta lebih ramah lingkungan yang menggunakan limbah kotoran sapi. Memanfaatkan kotoran sapi yang tidak hanya bisa dibuang begitu saja atau digunakan sebagai pupuk di pertanian melainkan dapat diolah. Desa Pandesari ini mendapatkan subsidi reaktor yang digunakan dalam pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dari koperasi SUSU SAE Pujon.

Pernyataan di atas membuat peneliti ingin lebih mengetahui secara luas yang melatar belakangi masyarakat desa Pandesari melakukan pengolahan limbah kotoran hewan menjadi biogas selain ramah lingkungan juga lebih hemat dalam pengeluaran keuangan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan biogas dan sisa biogas berupa slury hanya dibuang begitu saja ke selokan yang mengalir ke sawah warga. Slury ini bisa diolah sebagai pupuk. Sehingga, dengan kesuksesan menggunakan biogas dan slury yang ramah lingkungan dan lebih hemat diharapakan masyarakat pandesari yang belum menggunakan biogas dapat memanfaatkan limbah yang ada di lingkungan mereka.

Selain hal di atas, ternyata masyarakat lain yang memiliki sapi perah, menghasilkan kotoran hanya dibuang ke sungai. Secara langsung, kotoran sapi yang dibuang ke sungai menjadi polusi air. Meskipun kotoran hewan ini bermanfaat, maka harus diolah agar dapat terurai gas methane. Masyarakat lain yang tidak memanfaatkan kotoran ini sebagai biogas atau pupuk slury (limbah hasil biogas) karena dalam pembuatan biogas ini harus memiliki lahan yang cukup luas. Adanya kekurangan hal di atas, maka masyarakat ataupun unit pengelolaan biogas dan peternak sapi bisa memberikan kesadaran satu sama lain akan peduli lingkungan. Masyarakat yang tidak memiliki lahan, saling bekerjasama untuk mengolah kotoran ini menjadi biogas. Biogas ini dapat dijual dalam bentuk tabung gas. Ataupun slury yang dapat menjadi pupuk untuk pertanian dan akan sulit bila berbentuk cair, maka masyarakat bisa mengolah slury menjadi pupuk kering.

Peneliti mengharapkan adanya fenomena yang ada di masyarakat Pandesari Pujon ini, masyarakat lebih peduli akan lingkungan yang memanfaatkan kotoran sapi, sehingga dapat melakukan kegiatan ekonomi dengan memproduksi kotoran sapi menjadi biogas dan sisa biogas tersebut bisa diolah menjadi pupuk slury. Adanya memanfaatkan kotoran tersebut, kemudian diolah menjadi barang yang dapat dimanfaatkan, seperti biogas dan pupuk slury, sehingga masyarakat dapat belajar kegiatan ekonomi dengan cara mendistribusikan biogas dan pupuk skury  kepada masyarakat lain yang bisa menggunakan biogas pengganti gas LPG (liquid petroleum gases)  dan pupuk slury untuk pertanian, dan bisa dikonsumsi atau digunakan untuk kepentingan rumah tangga masyarakat.

Penanganan limbah kotoran sapi dengan sistem fermentasi anaerobik menggunakan reaktor biogas memiliki beberapa keuntungan, seperti: dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, mengurangi bau tak sedap meskipun masyarakat Pandesari Pujon sudah terbiasa akan bau tak sedap ini, mencegah penyebaran penyakit, menghasilkan pupuk dari sisa limbah biogas, serta menghasilkan energi. Pemanfaatan limbah seperti ini secara ekonomi sangat kompetitif sebagai pengganti gas LPG (liquid petroleum gases) yang semakin lama harga gas semaki mahal dan pupuk anorganik. Pelaksanaan program biogas untuk menangani limbah peternakan diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi pada setiap pengguna biogas atau setiap individu rumah tangga dan perbaikan lingkungan hidup. Menurut Damanik (2014: volume 4-no 1):

Pemanfaatan limbah sebagai sumber energi alternatif belum merupakan cara yang umum dilakukan, terutama limbah yang bersumber dari kegiatan peternakan dengan kapasitas yang besar sebab limbah yang dibuang ke lingkungan mempunyai sifat dan karakteristik tertentu dan cukup potensial menimbulkan dampak yang merugikan lingkungan sehingga perlu dilakukan penanganan kembali. Pemanfaatan feses ternak sapi sebagai energi alternatif biogas bagi rumah tangga dan dampaknya terhadap lingkungan Di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman memberikan gambaran sebuah masyarakat yang sudah merespon secara positif terhadap pemanfaatan feses ternak sebagai energi alternatif biogas hal itu terbukti dari nilai penghematan yang diperoleh dari pemanfaatan energi biogas sebesar 250 m3 .

Beberapa pernyataan di atas peneliti ingin mengetahui pemanfaatan biogas masyarakat Pandesari pujon yang memiliki wawasan ramah lingkungan serta lebih mengerti pemanfaatan biogas dapat meminimalisasi pengeluaran keuangan mereka. Pemanfaatan biogas selama ini sudah efektif atau belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Peneliti berharap biogas tersebut juga dapat menanamkan konsep ekonomi lingkungan yang pada intinya memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas yang nantinya digunakan sebagai pengganti gas LPG (liquid petroleum gases) untuk memasak makanan oleh setiap rumah tangga, dapat menjadi distributor bagi masyarakat lain, sehingga tidak hanya bermanfaat bagi individu tetapi bermanfaat bagi individu lain yang bisa menambakan keuangan disetiap rumah tangga yang memproduksinya. Oleh sebab itu, masyarakat mempunyai pilihan untuk menggunakan biogas dan tidak perlu membeli gas lagi. Ekonomi lingkungan yang memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk melakukan kegiatan ekonomi serta dapat memenuhi kebutuhan manusia. Peneliti ingin mengkaji lebih luas dan ingin memberikan saran terkait dengan kegiatan yang sudah dilakukan masyarakat Pandesari Pujon berkaitan dengan ramah lingkungan dan hemat biaya.

Menurut Elizabeth dan Rusdiana (2011) biogas merupakan sumber energi terbaru dan  penting sebagai substitusi unggul dan ikut andil dalam menyumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Teknologi biogas merupakan pilihan yang tepat untuk mengubah limbah peternakan untuk menghasilkan energi dan pupuk sehingga diperoleh keuntungan ganda (multi margin) baik secara sosial ekonomi maupun dari segi kelestarian lingkungan. Sehingga peneliti mengharapkan masyarakat lebih bisa mandiri dan lebih maju dari sekarang dengan kekurangan atau kelebihan yang ada, sehingga peneliti mengambil judul penelitian “Makna Penggunaan Biogas Sebagai Sumber Energi Rumah Tangga (Studi Kasus Masyarakat Pedesaan Pandesari Pujon)”.

Fokus Penelitian

  1. Bagaimana makna penggunaan biogas sebagai sumber energi rumah tangga masyarakat pedesaan Pandesari Pujon?
  2. Bagaimana pemanfaatan biogas dari aspek pendidikan ekonomi?
  3. Bagaimana pemanfaatan biogas dari aspek wawasan lingkungan?

Dosen Pembimbing:

  1. Dr. Wahjoedi, M.E., M.Pd
  2. Dr. Hj. Sri Umi Mintarti Widjaja, S.E., M.P., Ak.

Dosen Penguji:

  1. Hari Wahyono, M.Pd
  2. Hardika, M.Pd

BIODATA DIRI

Nama                                       :  Rizki Amalia Rachmawati

Tempat, Tanggal Lahir        : Tulungagung, 12 Januari 1992

Alamat KTP                            : Jl. KHR. ABD. Fattah Gang 2 No. 11 Tulungagung

Alamat Sekarang                   : Jalan Raya Sumbersari 292 C Malang

Jenis Kelamin                        : Perempuan

Agama                                     : Islam

No Hp                                     : 081252443032 / 085646646101

Email                                       : rizkirachmawati1201@gmail.com

JENJANG PENDIDIKAN FORMAL           

No Periode Pendidikan Formal keterangan
1 1999 2004 SD Negeri Kampung Dalem 3
2 2004 2007 SMP Negeri 2 Tulungagung
3 2007 2010 SMA Negeri 2 Boyolangu
4 2010 2014 S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang
5 2015 sekarang S2 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang  

 

One thought on “Makna Penggunaan Biogas Sebagai Sumber Energi Rumah tangga (Studi Kasus Masyarakat Pedesaan Pandesari Pujon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *